Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 Mei 2013

Pewaris Cita


senja kali ini
semburat lembayung makin kentara
aroma karang juga kian terasa
seperti sore sore sebelumnya
pasang dan surut kan bertukar lagi.

tak ada yang berubah sebenarnya
kalian tetap pewaris cita
seperti jantung yang terus berdetak dalam dada

bagaimana munkin takkan begitu?
lubuk hati tepian mata
tak kering dimakan usia
sebab kalianlah segala muara
muara dari segala cinta tulusku
yang mengalir deras di pembuluh darahku

Kelak langkahku makin tertatih
teruslah melangkah
sejauh yang kalian mampu
jauh dari apa yang telah kuraih.

Bila tiba saatnya untukku,
hanya satu saja pintaku
do'a kalian pada Yang Maha Satu
sebab jiwaku tak seputih salju.

"Untuk kalian beriga"
Ciputat, 12/03/2013

Minggu, 20 Januari 2013

Dirimu Kini?


di manakah dirimu kini?
lenggang jalanku terasa sumbang!
manakala kau tak lagi bergayut
serasa ada yang lepas
luruh bagai daun daun kering.

di manakah dirimu kini?
hari-hariku dikungkung sunyi
manakala manja dan centilmu
tak lagi mancandaiku
semua makin membisu
akankah sampai membatu?

ke manakah kau kan pergi?
bila pegangan kau lepaskan kini
maka aku kan tinggal sendiri
tanpa siapa-siapa lagi
sebab semua kau bawa pergi.
yang tinggal hanya sepi

Sendiri!
apa gunanya lagi?

(dalam kesendirian)
Balai Baru, 17/1-13

Jumat, 14 Desember 2012

Lembaran Kisah Kita (6)


Dinda …
jalan ini munkin masih panjang
sebab perhentiannya belum nampak di ujung sana
atau munkin juga sudah dekat
sebab embun yang turun sejak pagi
menghalangi kejernihan pandangan kita

Seperti katamu ;
Segalanya serba munkin,
Maka ketika langkahku terpaku karena waktu
semua yang ada padaku telah kau tau
Maka kuharap ;
sesekali, nafasmu meniup langit
agar embun tetap turun
ikut membasahi kuncup-kuncup yang mesti kutinggalkan

Namun bila saatnya tiba untukmu,
ketika waktu membawamu pada keabadian
semampuku, akan kukepakkan sayap-sayap  mungilmu
biar mereka terbang bersama,
mengukir namamu di langit cita.

khawatirku ;
bila lelah memerangkap kita,
lalu langkahmu harus memilih jalannya,
sementara Jelaga kasih yang kita jujung berdua
belum sempat kita jernihkan bersama.

Dengan seluruh kerendahan diri,
kuharap Kemurahan-Nya
bakal membeningkan jiwa ini
sebelum masuk ke Pelukan-Nya?

Ciputat, 13-12-12

Sabtu, 07 Juli 2012

Bukittinggi-ku

Bukiktinggi Koto Rang Agam,
satu sebutan untukmu, begitu istimiwa untukku
kau lah kota dalam ranah kelahiranku,
karenanya, kerinduan padamu tak pernah pupus.

Kota mungil nan indah,
bukit-bukit kecil dan lurahmu ditata unik oleh-Nya.
membuatku begitu asyik menelusuri seluruh kelok dirimu.

Sesak napasku menapaki jenjangmu yang empat puluh,
menguatkan urat-urat jiwaku, mengokohkan tulang-tulang kehidupanku.

kumandang azan Mesjid Raya di Pasa Ateh,
menyejukkan jiwa yang dibakar terik Matahari.
sembah sujud dalam rumah suci itu adalah ketentraman hati.

Duduk berjuntai di bawah maskot Jam Gadang
membuatku damai mamandang Singgalang dan Merapi.
melambungkan citaku yang selalu melampaui kedua puncak gunung itu.

berteduh di bawah keangkuhan Fort Decok-mu, ternyata menghadirkan kenyamanan,
naungan dedauan pinus bersama belaian anginnya adalah keheningan.

bergegas menuruni Pasa Lereng, membangkitkan selera kulinerku
katupek bagulai Kapau, lompong sagu jo lapek bugih, dimana lagi kudapatkan?
ahayyy, mengenangnya saja 'jakun'ku turun naik.

maka saat ku harus pulang ke 'rumah' nan abadi
lengkap sudah semuanya.

hmm, betapa bahagia
saat semua kujalani bersama-'mu'.


                              Padang, 30 April 2012.

Kota-ku

Kamis, 21 Juni 2012

Rinduku pada-Mu

kembali kulabuhkan pincalang hidup
ke haribaan-Mu
bukan karena laut terlalu buas
untuk sebuah pelayaran
bukan karena badai terlalu ganas
untuk sebuah tantangan
rindu pada-Mu lah yang tak kunjung padam
walau siang berganti malam
saat malam makin kelam, ia makin menghunjam
Rabb ………
bukankah tak ada diam yang memberi tenang
tak ada sepi yang membuah haru
selain dalam dekapan-Mu?
ingin kugunungkan rindu
hingga menjulang Sidrathul munthaha-Mu
sampai menggetarkan Arsy-Mu
ketika menghambakan diriku
Rabbi …
adakah tempat bagi jiwa yang nelangsa
untuk membalut duka menghapus dosa?
Rabbi …
adakah rinduku jadi taubatku?
(ditulis; Tigo ruang 030390)
{Balai Baru ; 310110}

Selasa, 19 Juni 2012

Menggulung Waktu

telah ku kejar matahari,
agar ia memburu bulan
sebab siang dan malam terlalu lama berpisah.
sementara bintang merindukan pendar-pendar pelangi.

akan ku gulung waktu,
seperti ketika muncul gerhana
dimana bulan dan matahari bersatu.
tapi, gemuruh rasa tetap saja menyesak dada
sebab denting waktu nadanya masih saja sama.

               Balai Baru, 30 Maret 2012.
               Inspirasi dari'mu'.

Lembaran Kisah Kita (4)

Dinda...
inilah lembaran baru kisah kita,
yang  kita mulai rajut bersama,
di saat kaki-kaki masih terlalu kaku
terikat cerita masa lalu.

Tak apa,
toh cerita itu akan luruh bersama waktu
maka biarkan saja segala yang menggoda
berlalu di sisi langkah kita

Dinda, ...
mari kita memburu waktu
bersama kepak sayap kasih kita.
sebab bulan sudah menunggu
ntuk mengantarkan kita pada kisah nan abadi.

         Untuk 'mu'.
        Ciputat, 13 Mei 2012.

Sabtu, 16 Juni 2012

Lembaran Kisah Kita (3)

Dinda…
ceritamu tentang lembaran kisah lama itu,
yang sebenarnya tak seberapa,
telah merekahkan ribuan kuncup kelopak rasa,
yang dulu berderik dalam kerontang rongga jiwa.

Dinda ….
sejak saat itu,
kau dan aku duduk berjuntai di dunia kaca
menggapai ujung-ujung pelangi
yang muncul dibalik rinai dalam terpaan mentari.
dua jendela hati kita makin berpendar-pendar,
seakan tak pernah mau menutup hari.
seiring kuncup yang merekah menebar wangi.

Dinda ….
ujung-ujung pelangi itu …,
melengkung, membentuk kata “cinta”
“Udaa, mari masuk ke dalamnya”, katamu,
kurangkul dirimu dalam palunan rasa,
Kau dan Aku lenyap tak bersisa,
yang ada hanyalah kita,
yaa, hanya ‘kita’.

Lubuk Lintah, 7/2-2012.

Rabu, 13 Juni 2012

Lembaran Kisah Kita (2)

Kau...
masih saja memagut lengan kiriku,
dari dua bibirmu cerita terus bergulir ;

Udaaa ...
semilir itu membawaku pergi,
melintasi sungai, pulau, juga laut
menyeruak di antara kabut dan debu
berlari dalam sengatan terik matahari
dan palunan malam yang membeku.

Udaaa ...
dari musim ke musim perjalanan kami,
semilir itu makin kehilangan irama
bahkan juga nada.
saat menyapu daun-daun kehidupan
ia tak lagi berdendang ria
apalagi membisikkan cinta.

Udaaa ....
ia biarkan aku mengapung
bersama dua sayap kehidupanku
yang baru tumbuah dalam perjalanan kami,
sementara semilir itu larut dalam angin
tanpa tenaga.

Udaaa ...
aku mengepak dua sayap kehidupanku,
sendiri!!!,
mencoba mencari nada dan irama.
tanpa ia yang kehilangan rasa.

Udaaa ...
lalu aku menangkap bayanganmu
yang melintas di antara kemilau lembayung senja.
aahhh ...
ternyata potret senyum nakalmu
tak pernah bisa kutinggalkan di jalan setapak itu.
           
             (malam Jum'at, menjelang subuh)
             Balabaru, 13/1-2012


          

Lembaran Kisah Kita (1)

Kemaren,
Kau merayuku membuka lembaran kisah lama kita,
yang sebenarnya tak seberapa.
Mengajakku menyusuri jalan setapak yang pernah kita lalui,
sambil bergayut di lengan kiriku, kau bercerita ;

Udaaa....
di pertigaan ini, kita sering berpapasan,
aku selalu mencuri pandang senyum nakalmu.
diam-diam kumasukkan potret senyum itu
dalam album usang,
kusimpan pada kisi-kisi hati yang paling dalam,
yang rasanya tak munkin kubuka lagi,
sebab kemudian kau pergi seperti angin
meninggalkan sepenggal kerinduan.

Udaaa ....
Sejak kepergianmu,
di sepanjang jalan setapak ini,
aku sering menunggu senyum nakalmu
kau tak pernah datang lagi,
sepertinya kau memang pergi seperti angin,
entah kapan kan kembali, menerpa mukaku.

Kau cubit kecil lenganku, lanjutmu lagi ;
Udaaa…
Sampai padi di sepanjang sisi jalan ini menguning,
kau tak jua datang,
kemudian semilir lain menerpa diriku.

Balaibaru, 11/1-12