Senin, 25 Januari 2016

Dian 1

Dian...
Aku bukanlah mentari yang pasti hadir disetiap pagi yang dijanjikan
lalu lenyap ditelan ufuk barat
Aku hanyalah pelaut yang terus melarung dalam deru ombak dan badai
menuju tepian pulau cita
maka bisa saja pusaraku kelak bernisankan karang
atau bertabur bunga di atas gundukan tanah merah

Dian ...
Aku tahu pasti, kau memaku di tepian itu
memandang tiang layarku yang terkadang hilang tertutup gelombang
berharap jangkar perahu kecilku menancap di pinggir dermaga itu.

Dian ...
ada gemuruh yang tetap bergelora di jiwa
yang mendorongku ntuk terus berkayuh, menuju dermagamu
lalu merengkuhmu dalam hangatnya cahaya jingga
agar gigil yang kau tahan perlahan sirna, hilang dalam palunan rasa

Dian ....
Kerinduanmu kadang bertunas karang karang tajam
menggores perut bidukku yang tetap saja sarat dengan keringat

Dian ...
Aku tertatih.
Tapi godaan lambaian tanganmu, binar cerah matamu, senyum hangat bibirmu, adalah bara yang terus membakarku untuk berkayuh menuju tepian itu.
Tetap ataupun tidak kau terpaku di sana, toh layar ini sudah ku bentangkan.
Sebelum awan merah jingga itu lenyap, ia akan menggambarkan badai yang menengglamkanku
atau aku yang menunggangi gelombang
lalu berlabuh di landai pantai kita.

Lubuk Lintah, 210415

Sabtu, 11 Mei 2013

Pewaris Cita


senja kali ini
semburat lembayung makin kentara
aroma karang juga kian terasa
seperti sore sore sebelumnya
pasang dan surut kan bertukar lagi.

tak ada yang berubah sebenarnya
kalian tetap pewaris cita
seperti jantung yang terus berdetak dalam dada

bagaimana munkin takkan begitu?
lubuk hati tepian mata
tak kering dimakan usia
sebab kalianlah segala muara
muara dari segala cinta tulusku
yang mengalir deras di pembuluh darahku

Kelak langkahku makin tertatih
teruslah melangkah
sejauh yang kalian mampu
jauh dari apa yang telah kuraih.

Bila tiba saatnya untukku,
hanya satu saja pintaku
do'a kalian pada Yang Maha Satu
sebab jiwaku tak seputih salju.

"Untuk kalian beriga"
Ciputat, 12/03/2013

Minggu, 20 Januari 2013

Dirimu Kini?


di manakah dirimu kini?
lenggang jalanku terasa sumbang!
manakala kau tak lagi bergayut
serasa ada yang lepas
luruh bagai daun daun kering.

di manakah dirimu kini?
hari-hariku dikungkung sunyi
manakala manja dan centilmu
tak lagi mancandaiku
semua makin membisu
akankah sampai membatu?

ke manakah kau kan pergi?
bila pegangan kau lepaskan kini
maka aku kan tinggal sendiri
tanpa siapa-siapa lagi
sebab semua kau bawa pergi.
yang tinggal hanya sepi

Sendiri!
apa gunanya lagi?

(dalam kesendirian)
Balai Baru, 17/1-13

Oo Saluang Tolong Sampaikan

Dalam gurimik sambia duduak
Bapasan denai ka Tukang Saluang
Usahlah jari salah garitiak
Biakan dendang mambaco untuang

Ooo saluang nan bagiriak ampek
Ambuihkan malah angin nan elok
Kok untuang lai ka dapek
Luruihkan jalan nan bakelok

Oo dendang nan bacarito
sampaikan bana ka gunjainyo
nak sajuak hati jo kiro kiro
nyampang padam kalam palito
indaklah ado ka gantinyo
nyato luluah sampai ka pusaro.

Oo talang buluah sarueh
balubang ujuang jo pangka
di tangah-tangah bagiriak pulo
kok badan buliah den ureh
sayang tagantuang ka jadi baa
antah kok sansai kaduonyo
                             Ciputat, 11-12-12

Jumat, 14 Desember 2012

Lembaran Kisah Kita (6)


Dinda …
jalan ini munkin masih panjang
sebab perhentiannya belum nampak di ujung sana
atau munkin juga sudah dekat
sebab embun yang turun sejak pagi
menghalangi kejernihan pandangan kita

Seperti katamu ;
Segalanya serba munkin,
Maka ketika langkahku terpaku karena waktu
semua yang ada padaku telah kau tau
Maka kuharap ;
sesekali, nafasmu meniup langit
agar embun tetap turun
ikut membasahi kuncup-kuncup yang mesti kutinggalkan

Namun bila saatnya tiba untukmu,
ketika waktu membawamu pada keabadian
semampuku, akan kukepakkan sayap-sayap  mungilmu
biar mereka terbang bersama,
mengukir namamu di langit cita.

khawatirku ;
bila lelah memerangkap kita,
lalu langkahmu harus memilih jalannya,
sementara Jelaga kasih yang kita jujung berdua
belum sempat kita jernihkan bersama.

Dengan seluruh kerendahan diri,
kuharap Kemurahan-Nya
bakal membeningkan jiwa ini
sebelum masuk ke Pelukan-Nya?

Ciputat, 13-12-12

Rabu, 14 November 2012

Lembaran Kisah Kita (5)

Dinda,
lembaran kisah ini masih kita pintal bersama
semestinya memang kita selesaikan berdua
sampai kedua tangan tak lagi mampu merajutnya

menyusuri liku perjalanan ini
selalu saja menggairahkan bersama'mu'
walau nafas kita kadang tersengal pada pendakian
toh semilir juga datang membawa kesejukan

secangkir teh hangat yang kau suguhkan
disetiap persinggahan kita
selalu saja menghangatkan dada
seperti mentari di kala subuh
yang mengusir dinginnya udara malam

Dinda,
malam pasti bakal melahirkan siang
seperti maut yang melahirkan kehidupan
maka tak guna kita meragu
kemanapun kita melangkah
tak ada jalan yang tak berliku.

Ciputat, 14/11-12

Selasa, 04 September 2012

Tasawuf falsafi di Nusantara Abad ke XVII M (2)


Ajaran wujudiyah Hamzah ini kemudian dikembangkan oleh muridnya Syamsuddin Sumatrani. Kebanyakan peneliti berpendapat, hubungan mereka adalah guru-murid. Abdul Azis juga membenarkan pendapat A. Hasymy bahwa hubungan Hamzah dengan Syamsuddin sebagai murid dan khalifah, karena menurutnya telah dijumpai dua karya Syamsuddin yang merupakan ulasan atau syarah terhadap pengajaran Hamzah yaitu : Syarah Ruba’i Hamzah Fansuri dan Syarah Syair Ikan Tongkol.
Pemberian makna “Tiada wujud selain Allah” pada kalimat tauhid la ilaha illa Allah hanya dilakukan oleh kalangan sufi penganut paham wujudiyyah saja, dan itu menjadi ciri khas yang membedakan kalangan penganut paham wujudiyyah dengan kalangan sufi lainnya. Pengakuan bahwa tidak ada wujud selain Allah disebut dalam pengajaran Syamsuddin sebagai tauhid hakiki (al-tawhid al-haqiqi) atau tauhid yang murni (al-tawhid al-khalish). Menurutnya, tauhid hakiki atau tauhid murni itu baru ada pada seseorang jika ia mengakui bahwa tidak ada pelaku atau pembuat selain Allah, tidak ada yang ditaati atau disembah selain Allah dan tidak ada wujud selain Allah.
Dalam hal ini Syamsuddin mengingatkan pengikutnya tentang perbedaan pendirian mereka sebagai penganut tauhid yang benar (al-muwahhidin al-shiddiqin) dengan kaum yang ia sebut sebagai orang-orang zindiq. Menurutnya kedua pihak itu sepakat dalam hal menetapkan maksud kalimat tauhid la ilaha illa Allah, yakni tiada wujud selain Allah, sedangkan wujud sekalian alam adalah bersifat bayang-bayang, majazi atau fatamorgana.
Bagi kaum zindiq, wujud Tuhan tidak ada kecuali dengan kandungan wujud alam seluruhnya; semua wujud alam adalah wujud Tuhan dan wujud Tuhan adalah wujud alam. Baik dari segi wujud maupun dari segi ta’ayyun-ta’ayyun (penampakan-penampakan). Mereka menetapkan kesatuan hakiki dalam kejamakan alam tanpa membedakan martabat Tuhan dengan alam.
Paham demikian, menurut Syamsuddin adalah paham batil, tidak benar dan ditolak oleh penganut tauhid yang benar. Berdasarkan pendapat ini terkesan jauh hari sebelum Nuruddin al-Raniry mengkritik paham Syamsuddin sebagai mulhid, ia sendiri telah menjelaskan bahwa mana wujudiyyah mulhid dan mana yang muwahhid.
Pengajaran paham wujudiyyah juga dikenal dengan “martabat tujuh”, yaitu tentang satu wujud dengan tujuh martabatnya. Pengajarannya ini agaknya sama dengan yang diajarkan al-Buhanpuri, yang diduga kuat sebagai orang pertama yang membagi martabat wujud itu kepada tujuh kategori. Ketujuh martabat tersebut adalah : martabat ahadiyyah, martabat wahdah, martabat wahidiyyah, martabat alam arwah, martabat alam mitsal, martabat alam ajsam dan martabat alam insan.
Al-Buhanpuri pernah mengingatkan bahwa sebutan martabat ketuhanan tidak boleh dipakaikan untuk martabat alam dan begitu pula sebaliknya. Akan tetapi dalam karya al-Burhanpuri tidak dijelaskan secara implisit tentang itu. Syamsuddin sebagai penganut paham martabat tujuh ini di Nusantara telah mengkategorikan martabat ketuhanan dan martabat kemakhlukan. Secara eksplisit dalam karya Syamsuddin terlihat tiga martabat, pertama disebut anniyat Allah, yaitu martabat wujud aktual Allah, sedangkan empat martabat berikutnya disebut anniyah al-Makhluq, yaitu martabat wujud aktual makhluk.
Paham martabat tujuh inilah yang membedakan antara Syamsuddin Sumatrani dengan gurunya Hamzah Fansuri, yang mana dalam ajaran Hamzah tidak ditemukan pengajaran ini. Tetapi keduanya sangat menekankan pemahaman tauhid yang murni, bahwa Tuhan tidak boleh disamakan atau dicampurkan dengan unsur alam. Dalam pengajaran Hamzah Fansuri dikenal dengan la ta’ayyun. Sedangkan dalam pengajaran Syamsuddin dikenal dengan aniyat Alllah, yang merupakan kejelasan dari ajaran al-Burhanpuri untuk tidak mencampur-adukkan martabat ketuhanan dengan martabat kemakhlukan.
3. Respon dan Pengaruh Paham Tasawuf Falsafi di Nusantara Pasca Hamzah dan Syamsuddin.
Ternyata Hamzah Fansuri dan Syamsuddin Sumatrani pada prinsipnya dikategorikan termasuk dalam aliran pemikiran yang sama, keduanya merupakan pendukung terkenal penafsiran mistikofilosofis wahdat al-Wuju. Walaupun sedikit ada perbedaan penekanan, keduanya sangat dipengaruhi terutama oleh Ibn ‘Arabi. Konsep inti ajaran mereka adalah kehadiran alam ini disebabkan serangkaian proses penampakan diri Tuhan. Ide ini pada perkembangan selanjutnya mendorong para penentang seperti al-Raniri untuk menuduh mereka sebagai panteis.
Dalam pandangan Nuruddin, pembahasan tentang wujud Allah dapat dibagi dua: wujudiyyah muwahhid dan wujuddiyah mulhid. Hamzah digolongkan pada wujudiyyah mulhid dan disebut zindiq. Menurut Aziz Dahlan, Syamsuddin bersama pengikutnya tidak menyebut diri sebagai penganut paham wujudiyah, apalagi mulhid. Mereke yakin berada dalam tauhid yang benar dan memandang diri sebagai golongan al-muwahhidin al-shiddiqin.
Sepanjang menyangkut tuduhan itu, menurut Azyumardi Azra para peneliti terbagi dua pula. Pertama, peneliti Barat seperti Winstedt, Johns dan Bariend, berpendapat bahwa ajaran dan doktrin Hamzah dan Syamsuddin sesat. Kleim ini mendorong Abdul Aziz Dahlan untuk membuktikan bahwa ajaran Syamsuddin dan gurunya Hamzah, bisa dipertanggungjawabkan secara teologis. Kedua, al-Attas, menyatakan bahwa sebenarnya ketiga pemikiran Hamzah, Syamsuddin dan Al-Raniri adalah sama, ia tidak menyebut ajaran Hamzah dan Syamsuddin sesat. Pada gilirannya al-Attas malah menuduh al-Raniri melakukan distorsi dan menyebarkan fitnah dan tidak memahami wujudiyyah. Asumsi al-Attas ini mengobsesi Ahmad Daudi untuk menjelaskan pada dunia bahwa al-Raniri punya logika pembenaran sendiri yang menurutnya wajar kalau ia menuduh Hamzah dan Syamsuddin sesat. Tapi menurut Azra al-Attas buru-buru mengklarifikasi pendapatnya dalam buku yang berjudul “A Comentary on the Siddiq al-Nur al-Din al-Raniri” terbit tahun 1986, berarti sesudah tesis Daudi terbit. Dalam karya tersebut al-Attas memuji al-Raniri sebagai orang yang dikaruniai kebijakan dan diberkati dengan pengetahuan yang orisinil yang berhasil menjelaskan doktrin yang keliru.
Tidak juga bisa dikatakan dengan munculnya al-Raniri yang mengkritik dan “membumi hanguskan” paham tasawuf falsafi, lantas paham ini lenyap dan punah. Berdasarkan penelitian Taufik Abdullah, setelah Sultan Iskandar Tsani wafat tahun 1642, tampil Syafiyatuddin Syah (1942-1975) permaisuri Iskandar Tsani yang menggantikannya. Diberitakan pada waktu itu Nuruddin al-Raniri meninggalkan Aceh sambil tergesa-gesa, menurut Bustan al-Salathin, seperti tercatat dalam diary opper-koopman Belanda, mangkatnya Iskandar Tsani memberikan kesempatan pada golongan moderat (Syamsuddin) untuk bangkit melawan arus intoleransi dan anti intelektual yang dilancarkan al-Raniri. Tampil pada waktu itu Syeikh Saifulrijal, ulama Minang, sebagai penasehat Sultanah atau ratu di Aceh dan menyebarkan pahamnya.
Jadi pada abad ke 16-17 M di Nusantara berkembang paham tasawuf falsafi yang bukan hanya di Aceh tapi di bagian wilayah lainnya di Nusantara. Meskipun ada usaha-usaha untuk menerapkan syari’ah – suatu yang tidak bisa dipisahkan dari lingkup Islam pada abad itu. Tulisan Hamzah Fansuri dan Syamsuddin memberi dorongan pada kecenderungan ini, tidak bisa disimpulkan secara blak-blakan bahwa mereka mengindahkan syari’ah. Mereka telah membeirkan sumbangan pada kehidupan religio-intelektual kaum Muslimin abad ke-16 dan 17 M. (Penulis : Tenaga Pengajar IAIN Imam Bonjol Padang dan STKIP Padamg Sumatera Barat).